Langsung ke konten utama

Postingan

[Journey to the West] Selamat datang 2024!

Sebenarnya aku tidak begitu menyakralkan momen pergantian tahun, sih. Walaupun pada akhirnya, si resolusi, rencana-rencana, harapan, mimpi, dan tahapan eksekusinya, lebih berasa kalau dimulai awal tahun.  Nggak, nggak. Ini harusnya bukan hal yang bagus, kalau mau berubah jadi lebih baik harus menunggu momen dulu. Padahal kalau mau melakukan hal yang baik, lakukan saja sekarang, kan? Malam ini, bukan lagi ingin nulis resolusi tahun 2024.  Malam ini, mampir karena ingin menuangkan sesuatu yang bikin berat di dada, karena hati resah. Hati resah karena banyak pertanyaan belum terjawab, sementara mulut tidak sanggup melontarkan pertanyaan-pertanyaan kepada siapapun. Rasa aman, rasa tenang dalam bertanya itu hak bukan, ya?  Rasa aman menanyakan hal-hal yang 'uncomfortable' itu indikator kesejahteraan sebuah relasi, bukan?  Bagaimana cara mencapai itu?  Harus melalui proses apa dulu? Beratkah melaluinya untuk mencapai titik itu? Siapa yang harusnya bertanya pada siapa?...

[Journey to the West] Wah 2023, sebentar lagi 2024!

Aku cukup berkaca-kaca, waktu baca tulisan terakhir di blog ini. Ternyata, keresahan demi keresahan selalu datang silih berganti setiap waktunya seiring perjalanan aku bertumbuh menjadi manusia.  Masa-masa setelah lulus kuliah, ternyata masa yang lebih sulit dibanding semua idea  yang aku punya dulu. Nyatanya, aku tidak bisa berbohong masa setelah tahun 2021, menjadi masa-masa sulit, dan berat. Aku jadi sering jatuh, dan rapuh. Bahkan kalau detik ini, waktu aku menulis ini, aku diminta menonton film yang isinya kisah hidupku di tahun lalu, aku pasti keluar bioskop dengan mata jengkol.  Berhubung sekarang sedang ada di akhir tahun 2023 jadi akan lebih relate , kalau ceritanya kita recap hal-hal yang terjadi di tahun ini mungkin ya?  Beberapa hari yang lalu aku menulis di X (dulu Twitter), bahwa aku merasa tahun 2023 ini baru dimulai dari bulan Juni. Bulan-bulan sebelumnya? aku merasa tidak hidup, atau merasa bahwa Annisa yang di sana bukanlah Annisa yang sebenarnya....

[Journey to the West] Merenung di Tengah Tahun

Akhirnya aku beranikan diri kembali membuka lembar kosong yang ada di sini, untuk menuliskan banyak hal yang selama ini memenuhi isi kepala. Dua tahun adalah waktu yang ternyata terlalu singkat untuk dilewati hal-hal yang datang tanpa diminta. Namun, jika ada film yang bisa menayangkan segala hal yang terjadi pada dua tahun ini, aku rasa dua jam berdiam diri di bioskop bersama berondong jagung bukanlah waktu yang cukup. Dua tahun lalu saat terakhir aku tuangkan isi ceret ke dalam cawannya, tinta pena ke dalam kertasnya, saat itu aku masih berstatus sebagai mahasiswa tingkat akhir. Segala kesulitan, kebimbangan, kepayahan yang terjadi pada tahun-tahun sebelumnya rupanya belum ada apa-apanya dibandingkan segala yang tumpah ruah di tahun itu. Ujian demi ujian harus dilewati agar hidup senantiasa terus berjalan mengikuti porosnya. Berjuang dan bertahan di tengah pandemi, hingga akhirnya harus turut menjadi mereka yang mencicipi rasanya diuji dengan penyakit dari virus tersebut. Namun, de...
  Edukasi Stimulasi Perkembangan Anak Usia Dini bagi Masyarakat di Tengah Pandemi COVID-19 melalui Webinar oleh: Annisa Siti Fathonah (Mahasiswa Pendidikan Khusus FIP UPI, Peserta KKNT PPD COVID-19 Kelompok 43) DPL: Dr. Wawan Hermawan, M.Ag.             Perkembangan merupakan sebuah proses perubahan yang sistematis, progresif, dan berkesinambungan baik secara struktur (fisik) maupun fungsi (psikis) yang terjadi dalam diri individu sejak lahir hingga akhir hayatnya. Pada proses perkembangan, terdapat tugas-tugas perkembangan yang harus dicapai oleh setiap individu pada setiap tahap perkembangannya. Berbagai hal yang terjadi pada sebuah tahap perkembangan, akan memengaruhi tahapan perkembangan selanjutnya. Sehingga, setiap tahap perkembangan harus diupayakan agar mencapai perkembangan yang optimal. Hal tersebut, agar di tahap-tahap perkembangan selanjutnya, individu mampu mencapai tugas perkembangannya dengan baik, dan ...

[Journey to the West] 2 x 365 + 93

2 tahun dan 93 hari setelah tulisan terakhir dari buku digital ini muncul, pemilik buku ini benar-benar sudah tidak pernah menggoreskan tinta digitalnya di buku ini. Rasanya, jikalau ini benar-benar merupakan sebuah buku konvensional, tentu ia akan amat berdebu. Sepertinya kita butuh vacum cleaner dengan teknologi terbaru dan termutakhir untuk membersihkan debu-debu hingga bersih di buku ini karena lama tidak tersentuh. Bukan, bukan karena pemilik buku ini melupakan bukunya. Bahkan, sesekali beberapa orang menanyakan kabar buku ini. Seringkali pemilik buku menjawab baik-baik saja, hanya saja rasanya sulit menggapai buku ini untuk kembali digoreskan tinta. Sampai kini, pemilik buku tidak mengetahui faktor yang memengaruhinya. Sibuk? sungguh tidak elok mengambinghitamkan hal-hal yang sebenarnya masih dapat dikelola. Sampai saat ini hipotesis terkuatnya ialah kurangnya motivasi internal dari pemilik buku untuk kembali menulis. Klise ya. ______________________________________________...

[Pendapat-Ku] Zaman Provokatif (Bagian 1)

Banyak hal yang terjadi yang menjadi dasar dari tulisannya. Sedikit kegelisan dan kebingungan seorang mahasiswi tingkat pertama yang lelah dengan doktrin-doktrin dari berbagai penjuru. -------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Aku sendiri tidak tahu, apa karena aku seorang burung yang baru keluar dari sangkar sehingga aku kaget melihat luas dan tingginya langit, aku merasa takut dan merinding melihat keadaan lingkunganku sekarang. Berbagai sisi lingkunganku seolah tidak dapat terbendung dalam menerima berbagai pendapat dan asumsi yang belum tentu dapat terbukti kebenarannya. Ya memang demikian, tidak dapat dikatakan benar atau salah semua pendapat itu abu-abu, bahkan tak jelas warnanya apa. Namun, terkadang hal tersebut banyak pendukungnya, banyak yang membesar-besarkannya. Aku setuju dengan pendapat salah satu temanku, kita berada di zaman dikit-dikit viral. Bagiku zaman ini bukan hanya sekedar...

[Journey to the West] THINGS ABOUT ME

Menjadi seseorang yang ingin keluar dari zona aman, zona aman bukan zona nyaman. Sebab, aku ingin selalu berada disini bukan karena aku nyaman tetapi ku takut menjadi tidak aman dan mengacaukan keamanan yang selama ini aku rasakan. Mencari zona nyaman nyatanya tak mudah, hingga kini perjalananku masih terus berlanjut mencari zona baru yang membuatku merasa nyaman. Banyak orang yang bilang ia ingin keluar dari zona nyamannya, ingin mencoba hal-hal baru di luar kebiasaannya. Entahlah, apakah benar sebelumnya mereka ada di zona nyaman atau di zona aman ? Sebab, apabila mereka nyaman mengapa harus mencari lagi ? Mungkin itu hanyalah perbedaan istilah saja, tapi bagiku hal tersebut berbeda dan memberikan dampak yang luar biasa. Aku terus mencari, terus mencari mana zona nyamanku, sebab selama hidupku aku rasa aku hanya menjadi si gadis tengah saja, fluktuatif, dan labil. Ya mungkin sebagian manusia sama sepertiku, gadis-gadis di usiaku sama sepertiku masih mencari-cari zona nyaman ...