Bagiku atau mungkin bagi beberapa orang saat ini, malam-malam yang harus kami lewati tidak lagi terasa semudah itu. Bait-bait doa berganti dan beralih pada hal-hal sederhana, yang dulu, tidak pernah terbayangkan akan menjadi sesuatu yang begitu nikmat dan mahal saat ini. Mungkin ya, ini cara-Nya agar kita tidak merasa tinggi, merasa terus kecil, karena ternyata kita hanya seonggok daging kecil dengan tulang di tengah padang sempit yang tidak lebih baik dari bangkai kambing, bernama dunia. Banyak kerusakan terjadi, karena ternyata kita sudah terlalu jauh. Kita terlena dengan sesuatu yang mudah dan (katanya) cuma-cuma. Betul, makanan untuk hormon bahagia bernama dopamin itu kini banyak diburu. Kita lupa bahwa kita tidak pernah mendapatkannya dengan cuma-cuma, ada harga yang harus kita bayar bernama rusaknya kemampuan kontrol diri. Ya, kita lah bagian masyarakat yang tidak bisa berteman dengan rasa bosan. Rasanya, tidak boleh ada satu detikpun yang harus kita lewati dengan rasa...
Awalnya, aku pikir perubahan peran adalah satu-satunya hal yang akan membuat hidup kembali tidak seimbang. Rupanya, hal-hal lain yang mengikuti menjadi pemberatnya. Kalau kata Donne Maula, " Bencana-bencana, di luar rencana" . Pada akhirnya, hidup memang tidak bisa selalu seperti yang kita rencanakan. Katanya, itu tidak apa-apa. Bukan tidak bersyukur atas apa yang sudah terjadi, rasanya tidak sopan juga jika mengatakan menyesal atas semua yang telah terlewati. Khawatir menjadi individu kufur nikmat, karena menihilkan berbagai kebahagiaan yang sudah dicicipi. Padahal, maksudnya bukan itu. Dihantam batu besar adalah sesuatu yang tidak pernah dipikirkan sebelumnya. Walaupun, salah sendiri " mengapa tidak menyiapkan ruang kosong untuk tempat munculnya batu itu?". Meskipun masih mencari keseimbangannya, 30 hari Ramadan menjadi harapan agar kelak setelah aku melewatinya, aku menemukan jawaban atas segala pertanyaan-pertanyaanku (yang entah ada atau tidak jawabannya). Sel...