Namanya juga hidup, kalau isinya harus sesuai yang kita mau terus, itu terlalu jauh. Namanya juga hidup, kalau isinya harus bahagia-bahagia terus, itu terlalu lurus. Namanya juga hidup, kalau isinya harus tersenyum tertawa terus, itu terlalu muluk-muluk. Benarkah demikian? Aku pernah, ada di masa hidupku terasa aneh. Aneh sekali. Begitu banyak pertanyaan dalam diriku "kenapa harus begini jadinya?". Keseharianku menjadi begitu terasa banyak dosanya, karena dalam hati terus berkata "seandainya". Anugerah hidup sampai detik ini masih dititipkan padaku, isinya harus apa? harus ibadah katanya. Oh seandainya, eh seandainya lagi. Andai saja, ada jalan lain yang lebih mudah, mungkin sudah ku pilih. Namun, apalah daya? sebagai aktor, kita ikut saja alur cerita akan bagaimana. Aku manusia, punya sifat ingin bermimpi dan berangan-angan. Boleh kah? Saat ini, perjalanan ini sungguh bagai perjalanan yang tak ada ujungnya. Lelaaaaaaaah sekali. Aku hanya ingin sebenar-benarnya hidu...
Bagiku atau mungkin bagi beberapa orang saat ini, malam-malam yang harus kami lewati tidak lagi terasa semudah itu. Bait-bait doa berganti dan beralih pada hal-hal sederhana, yang dulu, tidak pernah terbayangkan akan menjadi sesuatu yang begitu nikmat dan mahal saat ini. Mungkin ya, ini cara-Nya agar kita tidak merasa tinggi, merasa terus kecil, karena ternyata kita hanya seonggok daging kecil dengan tulang di tengah padang sempit yang tidak lebih baik dari bangkai kambing, bernama dunia. Banyak kerusakan terjadi, karena ternyata kita sudah terlalu jauh. Kita terlena dengan sesuatu yang mudah dan (katanya) cuma-cuma. Betul, makanan untuk hormon bahagia bernama dopamin itu kini banyak diburu. Kita lupa bahwa kita tidak pernah mendapatkannya dengan cuma-cuma, ada harga yang harus kita bayar bernama rusaknya kemampuan kontrol diri. Ya, kita lah bagian masyarakat yang tidak bisa berteman dengan rasa bosan. Rasanya, tidak boleh ada satu detikpun yang harus kita lewati dengan rasa...