Langsung ke konten utama

Postingan

[Journey to the West] 30 Hari Mencari

Awalnya, aku pikir perubahan peran adalah satu-satunya hal yang akan membuat hidup kembali tidak seimbang. Rupanya, hal-hal lain yang mengikuti menjadi pemberatnya. Kalau kata Donne Maula, " Bencana-bencana, di luar rencana" . Pada akhirnya, hidup memang tidak bisa selalu seperti yang kita rencanakan. Katanya, itu tidak apa-apa.  Bukan tidak bersyukur atas apa yang sudah terjadi, rasanya tidak sopan juga jika mengatakan menyesal atas semua yang telah terlewati. Khawatir menjadi individu kufur nikmat, karena menihilkan berbagai kebahagiaan yang sudah dicicipi. Padahal, maksudnya bukan itu. Dihantam batu besar adalah sesuatu yang tidak pernah dipikirkan sebelumnya. Walaupun, salah sendiri " mengapa tidak menyiapkan ruang kosong untuk tempat munculnya batu itu?". Meskipun masih mencari keseimbangannya, 30 hari Ramadan menjadi harapan agar kelak setelah aku melewatinya, aku menemukan jawaban atas segala pertanyaan-pertanyaanku (yang entah ada atau tidak jawabannya). Sel...
Postingan terbaru

[Journey to the West] Memaknai Kata Sendiri

 ".. Aku harus belajar menerima bahwa perasaan bahagia terkadang bisa datang satu paket dengan perasaan kecewa. Bagai dua sisi mata uang, ketika mereka datang menyapa, dan aku menyambut dengan baik maka aku harus menerima kedua sisi tersebut, tidak bisa hanya salah satunya. Aku harus belajar menerima bahwa terkadang yang terlihat dengan mata hanyalah sebuah proyeksi dan bukan yang sebenarnya terjadi. Aku harus belajar menerima bahwa ketidakpastian dan ketidaknyamanan adalah keniscayaan yang akan selalu hadir selama kita masih bertugas di dunia. " Satu hal yang aku senangi saat aku menulis adalah di masa depan aku bisa kembali membukanya. Membuka kembali berbagai memori yang membuat kepala kembali bising dengan cerita-cerita yang kembali diputar. Jika kamu pernah membaca tulisanku, benar, kutipan di atas adalah kataku, pada dua tahun yang lalu.  Tidak terasa, ternyata yang aku perhatikan, perasaan akan selalu datang berulang, ya. Entahlah mungkin sebuah keniscyaan bahwa segala...

[Journey to the West] Selamat datang 2024!

Sebenarnya aku tidak begitu menyakralkan momen pergantian tahun, sih. Walaupun pada akhirnya, si resolusi, rencana-rencana, harapan, mimpi, dan tahapan eksekusinya, lebih berasa kalau dimulai awal tahun.  Nggak, nggak. Ini harusnya bukan hal yang bagus, kalau mau berubah jadi lebih baik harus menunggu momen dulu. Padahal kalau mau melakukan hal yang baik, lakukan saja sekarang, kan? Malam ini, bukan lagi ingin nulis resolusi tahun 2024.  Malam ini, mampir karena ingin menuangkan sesuatu yang bikin berat di dada, karena hati resah. Hati resah karena banyak pertanyaan belum terjawab, sementara mulut tidak sanggup melontarkan pertanyaan-pertanyaan kepada siapapun. Rasa aman, rasa tenang dalam bertanya itu hak bukan, ya?  Rasa aman menanyakan hal-hal yang 'uncomfortable' itu indikator kesejahteraan sebuah relasi, bukan?  Bagaimana cara mencapai itu?  Harus melalui proses apa dulu? Beratkah melaluinya untuk mencapai titik itu? Siapa yang harusnya bertanya pada siapa?...

[Journey to the West] Wah 2023, sebentar lagi 2024!

Aku cukup berkaca-kaca, waktu baca tulisan terakhir di blog ini. Ternyata, keresahan demi keresahan selalu datang silih berganti setiap waktunya seiring perjalanan aku bertumbuh menjadi manusia.  Masa-masa setelah lulus kuliah, ternyata masa yang lebih sulit dibanding semua idea  yang aku punya dulu. Nyatanya, aku tidak bisa berbohong masa setelah tahun 2021, menjadi masa-masa sulit, dan berat. Aku jadi sering jatuh, dan rapuh. Bahkan kalau detik ini, waktu aku menulis ini, aku diminta menonton film yang isinya kisah hidupku di tahun lalu, aku pasti keluar bioskop dengan mata jengkol.  Berhubung sekarang sedang ada di akhir tahun 2023 jadi akan lebih relate , kalau ceritanya kita recap hal-hal yang terjadi di tahun ini mungkin ya?  Beberapa hari yang lalu aku menulis di X (dulu Twitter), bahwa aku merasa tahun 2023 ini baru dimulai dari bulan Juni. Bulan-bulan sebelumnya? aku merasa tidak hidup, atau merasa bahwa Annisa yang di sana bukanlah Annisa yang sebenarnya....

[Journey to the West] Merenung di Tengah Tahun

Akhirnya aku beranikan diri kembali membuka lembar kosong yang ada di sini, untuk menuliskan banyak hal yang selama ini memenuhi isi kepala. Dua tahun adalah waktu yang ternyata terlalu singkat untuk dilewati hal-hal yang datang tanpa diminta. Namun, jika ada film yang bisa menayangkan segala hal yang terjadi pada dua tahun ini, aku rasa dua jam berdiam diri di bioskop bersama berondong jagung bukanlah waktu yang cukup. Dua tahun lalu saat terakhir aku tuangkan isi ceret ke dalam cawannya, tinta pena ke dalam kertasnya, saat itu aku masih berstatus sebagai mahasiswa tingkat akhir. Segala kesulitan, kebimbangan, kepayahan yang terjadi pada tahun-tahun sebelumnya rupanya belum ada apa-apanya dibandingkan segala yang tumpah ruah di tahun itu. Ujian demi ujian harus dilewati agar hidup senantiasa terus berjalan mengikuti porosnya. Berjuang dan bertahan di tengah pandemi, hingga akhirnya harus turut menjadi mereka yang mencicipi rasanya diuji dengan penyakit dari virus tersebut. Namun, de...
  Edukasi Stimulasi Perkembangan Anak Usia Dini bagi Masyarakat di Tengah Pandemi COVID-19 melalui Webinar oleh: Annisa Siti Fathonah (Mahasiswa Pendidikan Khusus FIP UPI, Peserta KKNT PPD COVID-19 Kelompok 43) DPL: Dr. Wawan Hermawan, M.Ag.             Perkembangan merupakan sebuah proses perubahan yang sistematis, progresif, dan berkesinambungan baik secara struktur (fisik) maupun fungsi (psikis) yang terjadi dalam diri individu sejak lahir hingga akhir hayatnya. Pada proses perkembangan, terdapat tugas-tugas perkembangan yang harus dicapai oleh setiap individu pada setiap tahap perkembangannya. Berbagai hal yang terjadi pada sebuah tahap perkembangan, akan memengaruhi tahapan perkembangan selanjutnya. Sehingga, setiap tahap perkembangan harus diupayakan agar mencapai perkembangan yang optimal. Hal tersebut, agar di tahap-tahap perkembangan selanjutnya, individu mampu mencapai tugas perkembangannya dengan baik, dan ...

[Journey to the West] 2 x 365 + 93

2 tahun dan 93 hari setelah tulisan terakhir dari buku digital ini muncul, pemilik buku ini benar-benar sudah tidak pernah menggoreskan tinta digitalnya di buku ini. Rasanya, jikalau ini benar-benar merupakan sebuah buku konvensional, tentu ia akan amat berdebu. Sepertinya kita butuh vacum cleaner dengan teknologi terbaru dan termutakhir untuk membersihkan debu-debu hingga bersih di buku ini karena lama tidak tersentuh. Bukan, bukan karena pemilik buku ini melupakan bukunya. Bahkan, sesekali beberapa orang menanyakan kabar buku ini. Seringkali pemilik buku menjawab baik-baik saja, hanya saja rasanya sulit menggapai buku ini untuk kembali digoreskan tinta. Sampai kini, pemilik buku tidak mengetahui faktor yang memengaruhinya. Sibuk? sungguh tidak elok mengambinghitamkan hal-hal yang sebenarnya masih dapat dikelola. Sampai saat ini hipotesis terkuatnya ialah kurangnya motivasi internal dari pemilik buku untuk kembali menulis. Klise ya. ______________________________________________...