Langsung ke konten utama

[Journey to the West] Memaknai Kata Sendiri

 "..Aku harus belajar menerima bahwa perasaan bahagia terkadang bisa datang satu paket dengan perasaan kecewa. Bagai dua sisi mata uang, ketika mereka datang menyapa, dan aku menyambut dengan baik maka aku harus menerima kedua sisi tersebut, tidak bisa hanya salah satunya. Aku harus belajar menerima bahwa terkadang yang terlihat dengan mata hanyalah sebuah proyeksi dan bukan yang sebenarnya terjadi. Aku harus belajar menerima bahwa ketidakpastian dan ketidaknyamanan adalah keniscayaan yang akan selalu hadir selama kita masih bertugas di dunia."

Satu hal yang aku senangi saat aku menulis adalah di masa depan aku bisa kembali membukanya. Membuka kembali berbagai memori yang membuat kepala kembali bising dengan cerita-cerita yang kembali diputar. Jika kamu pernah membaca tulisanku, benar, kutipan di atas adalah kataku, pada dua tahun yang lalu. 

Tidak terasa, ternyata yang aku perhatikan, perasaan akan selalu datang berulang, ya. Entahlah mungkin sebuah keniscyaan bahwa segala jenis rasa akan kembali hadir walaupun di setiap masanya mereka datang dengan versi yang berbeda. Tebakanmu mungkin benar, kembali menulis dengan memaknai kata sendiri adalah rangkaian cerita kehidupan ketika aku kembali merasakan perasaan yang sama.

Hari ini, aku harus kembali belajar atau mungkin justru seharusnya ini waktunya aku mengaplikasikan hal yang telah aku pelajari. Hari ini adalah waktunya aku harus kembali menerima bahwa perasaan bahagia yang datang ternyata memang benar-benar datang satu paket dengan perasaan kecewanya. Tidak pernah menyesal aku rasa, memang begitulah kehidupan berjalan, bukan?

Hingga kembali datang waktu merenung, maka bukanlah beragam tweet gemas atau video-video manis dari influencer yang didatangi, melainkan diri sendiri. Membuka tulisan lama, adalah membuka kembali diri, melihat lebih dalam, lalu diingatkan. Harapan itu akan selalu ada, kembali lagi seperti kataku pada tulisanku sebelumnya, bahwa kelak kita akan disadarkan, segala ketidaknyamanan ini akan ada nilainya. Semoga :)


Komentar

  1. Tapi sering pula frekuensi kekecewaan lebih dirasakan dibandingkan kebahagiaan, atau hanya diri yang masih jauh dan kurang untuk memperbanyak frekuensi bersyukur.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

[Interest] The Vitruvian Man by Leonardo Da Vinci

Berbicara soal karya seni, sejujurnya aku bukanlah orang yang terlalu paham mengenai karya seni, atau hal-hal di dalamnya. Tetapi, saat sebuah karya seni memengaruhi dunia ke depannya, aku rasa hal yang menarik untuk di bahas. Kali ini, akan dibahas mengenai karya dari maestro terkenal Leonardo Da Vinci, seorang seniman sekaligus ilmuwan dimana teori-teorinya memengaruhi dunia. Salah satu lukisannya yang terkenal hingga kini adalah lukisan wanita cantik Monalisa. Tapi, kali ini yang akan kutulis adalah mengenai mahakaryanya yang lain, yakni lukisan The Vitruvian Man. Nama Vitruvian berasal dari nama seorang arsitek dan insinyur militer Romawi, Markus Vitruvius Pollio yang menurut informasi hidup sekitar 100 tahun sebelum masehi. Berbagai buku yang ditulisnya adalah buku-buku mengenai arsitektur. Rupanya, seorang Vitruvius ini menjadi inspirasi Da Vinci dalam menciptakan karyanya. Apa hubungan Vitruvian Man dan Vitruvius ? Yang mendasari seorang Leonardo Da Vinci, menggun...

[selingan] Karakteristik Guru Efektif dalam Perspektif Psikologi Pendidikan

Karakteristik Guru Efektif dalam Perspektif Psikologi Pendidikan Guru dan pendidikan merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan. Guru adalah jembatan dalam pendidikan agar pendidikan dapat tersampaikan dengan baik. Menurut undang-undang nomor 14 tahun 2005 pasal 1 ayat 1 tentang guru dan dosen, guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Guru sebagai pengajar dipandang sebagai expert , sebagai ahli dalam bidang ilmu yang diajarkannya. Guru adalah sentral atau pusat yang menjadi panutan bagi para siswanya, sehingga guru harus memberikan teladan yang baik dan pendidikan yang tepat karena segala tingkah lakunya sering kali dicontoh oleh siswa. Guru dipandang sebagai contoh nyata manifestasi nilai yang ada dalam masyarakat. Menjadi seorang guru bukan hanya bertindak sebagai pengajar, namu...

[Journey to the West] 30 Hari Mencari

Awalnya, aku pikir perubahan peran adalah satu-satunya hal yang akan membuat hidup kembali tidak seimbang. Rupanya, hal-hal lain yang mengikuti menjadi pemberatnya. Kalau kata Donne Maula, " Bencana-bencana, di luar rencana" . Pada akhirnya, hidup memang tidak bisa selalu seperti yang kita rencanakan. Katanya, itu tidak apa-apa.  Bukan tidak bersyukur atas apa yang sudah terjadi, rasanya tidak sopan juga jika mengatakan menyesal atas semua yang telah terlewati. Khawatir menjadi individu kufur nikmat, karena menihilkan berbagai kebahagiaan yang sudah dicicipi. Padahal, maksudnya bukan itu. Dihantam batu besar adalah sesuatu yang tidak pernah dipikirkan sebelumnya. Walaupun, salah sendiri " mengapa tidak menyiapkan ruang kosong untuk tempat munculnya batu itu?". Meskipun masih mencari keseimbangannya, 30 hari Ramadan menjadi harapan agar kelak setelah aku melewatinya, aku menemukan jawaban atas segala pertanyaan-pertanyaanku (yang entah ada atau tidak jawabannya). Sel...