Bagiku atau mungkin bagi beberapa orang saat ini, malam-malam yang harus kami lewati tidak lagi terasa semudah itu. Bait-bait doa berganti dan beralih pada hal-hal sederhana, yang dulu, tidak pernah terbayangkan akan menjadi sesuatu yang begitu nikmat dan mahal saat ini. Mungkin ya, ini cara-Nya agar kita tidak merasa tinggi, merasa terus kecil, karena ternyata kita hanya seonggok daging kecil dengan tulang di tengah padang sempit yang tidak lebih baik dari bangkai kambing, bernama dunia.
Banyak kerusakan terjadi, karena ternyata kita sudah terlalu jauh. Kita terlena dengan sesuatu yang mudah dan (katanya) cuma-cuma. Betul, makanan untuk hormon bahagia bernama dopamin itu kini banyak diburu. Kita lupa bahwa kita tidak pernah mendapatkannya dengan cuma-cuma, ada harga yang harus kita bayar bernama rusaknya kemampuan kontrol diri.
Ya, kita lah bagian masyarakat yang tidak bisa berteman dengan rasa bosan. Rasanya, tidak boleh ada satu detikpun yang harus kita lewati dengan rasa bosan, semuanya harus terisi, terisi penuh hingga luber keluar. Padahal akhirnya, kita akan sadar bahwa kosong adalah satu-satunya hal yang kita punya.
Padahal, memangnya kenapa ya kalau detik itu kita merasa bosan?
memangnya kenapa ya kalau detik itu kita merasa sepi?
memangnya kenapa ya kalau detik itu kita merasa sendiri?
memangnya kenapa ya kalau detik itu memang tidak ada yang bisa kita lakukan?
Menyibukkan diri dengan hal-hal recehan, yang kita kira akan membuat kita senang dan bahagia. Nyatanya, rasa bosan, sepi, dan sendiri tidak juga kunjung pergi. Mereka berubah bentuk, menjadi rasa bosan, sepi, dan sendiri yang nyata, yang sebenar-benarnya. Andai kemarin kita sadar dan berteman dengan rasa-rasa itu, mungkin mereka hanya akan singgah bukan akan menetap.
Nyatanya, kita sudah menggadaikan kemampuan yang dianugerahkan, bernama kesadaran diri.
Memang kita adalah bagian dari masyarakat yang tidak lagi ingin bersahabat dengan rasa bosan dan rasa kesepian.
Padahal.......
Kita boleh merasa bosan
kita boleh merasa sepi
kita boleh merasa sendiri
kita boleh merasa tidak ada yang bisa dilakukan lagi.
Kita boleh mengisi yang terasa kosong itu, dengan hal-hal yang bermakna, dengan usaha, dengan kesadaran, sebab yang hilang kemungkinan tidak akan kembali datang.
Semoga, semoga aku, kamu, dan kita semua kembali sadar, bahwa bosan dan kesepian adalah keniscayaan. Semoga mampu mengisi rasa-rasa itu dengan hati-hati, bukan dengan menggadaikan segala yang sudah miliki.
Komentar
Posting Komentar